Forgive Me | Part 2

13187487311534880739_574_0

Author : Vielisya Minnie

ini ff milik vilisya

dari hasil pemikiran murni otak sendiri

DILARANG MENG COPY ATAU MENJIPLAK

YANG NGGAK SUKA NGGAK USAH MAMPIR DISINI

semua pemeran hanya pinjam nama, pairing utama kyumin

********************************

Bagaimana cara menyatukan kembali kepingan hatimu…

Apakah memang sudah tak tersisa lagi maaf untuku…

Aku memang hina…

Aku memang keji……

Kau boleh berbuat apapun kepadaku…

Apapun……

Klo perlu aku akan menjadi budaku mu seumur hidup…..

Menjadi bonekamu pun aku rela…

Sungguh rela…….

Hanya satu yang kumohon…..

Jangan meminta ku untuk pergi dari hadapanmu…..

Dari pada itu…. Lebih baik kau bunuh saja aku langsung……

Continue reading

The Bride | Prolog

970886_364901440305210_1634908527_n

The Bride

.

KyuMin Fanfiction

.

Genre : Historical Romane

.

Warning : YAOI, gaje, abal, typo bertebaran dan lain sebagainya

.

PROLOG

Upacara pemakaman itu akhirnya selesai juga, semua orang yang menghadiri upacara tampak menghembuskan nafas lelah sambil menundukkan kepala, seakan merasa benar-benar terpukul dengan kepergiannya. Cuaca yang hingga satu jam ke belakang terlihat begitu cerah tiba-tiba saja berubah suram, begitu gelap dan menimbulkan suasana yang semakin mencekam. Di tambah kabut yang mendominasi seakan menambah dramatisasi dari pemandangan yang tengah berlangsung.

Continue reading

THAT EVIL WHO LOVES ME – CHAPTER 3

Image.

.

.

~oO0Oo~

Birthday gift for Meme Ramuca alias Memecum

Author : Aiko Sungmin Lee

Pairing : KyuMin / slight ZhouMin

Summary : Kisah perjuangan seorang bocah evil mengejar “namja musim gugur”-nya

~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo

Di chapter sebelumnya..

“Kau Lee Sungmin?”, suaranya berat dan dalam. Aku mengangguk pelan.

“Aku ingin minta pertanggung jawabanmu atas apa yang kau lakukan padaku,” dapat kudengar orang-orang disekitarku ber-HAH??

“Kau harus jadi kekasihku”.

WHAAAATTTT??????

._._._._._._._._._._._._._._._._ ._._._._._._._._._._._._._._._._ ._._._._._._._._._._._._._._._._._._._._._._._._._._._.

Chapter 3

Sungmin POV

“Kau harus jadi kekasihku”

Sumpah demi semua yang ada di atas sana, aku terkejut. Benar-benar terkejut. Dan sepertinya bukan hanya aku yang terkejut, karena dapat kudengar orang-orang disekitar kami ber – “WHAAAAAAAA..!!” dan “KYAAAAAA..!!”.

“Nah, ayo, kuantar kau ke kelas. Dan untuk kalian semua, jangan berani-berani mendekati Minnie-ku mulai saat ini. Kalian mengerti?!”, dan dengan itu ia seenaknya menggamit pergelangan tanganku dan menarikku menuju kelas. Apa-apaan bocah ini?

Aku marah. Benar-benar marah pada bocah ini.

“Tunggu!”, seruku sambil berusaha melepaskan tanganku. Dia tak mendengarkanku dan tetap melangkah sambil menarikku. Sial!

“Aku bilang TUNGGU!!”, seruku lagi. Kali ini sambil menyentakkan tanganku yang ada di genggamannya. Berhasil. Tanganku terlepas. Ia berbalik ke arahku.

“Apa-apaan kau ini?! Kau pikir siapa dirimu bisa bertindak seenak jidatmu seperti ini, HAH?!!!”, bentakku keras. Dia hanya mengangkat alisnya.

“Kau tidak kenal aku?”, tanyanya. WHAT? Apa maksudnya?

“Apa?”, kataku bingung.

“Kau tadi bertanya siapa aku. Kau tidak kenal aku?”, ulangnya. Aku semakin bingung.

“Sebegitu banyak orang yang setiap hari meneriakkan namaku, dan kau belum tahu siapa aku?”, tanyanya lagi.

Mataku melebar. Aish, anak ini rupanya salah mengerti pertanyaanku.

“Aku Cho Kyuhyun. Kelas 1A. Siswa dengan predikat terbaik dan sempurna, peringkat satu saat tes masuk kemarin– “

“BUKAN ITU MAKSUDKU!!!”, seruku frustasi. Ah, sepertinya wajahku sudah sangat merah sekarang.

Dia menatapku dengan ekspresi bertanya. Dan itu membuatku ingin mencakar wajah tampannya. Ugh!

“Kau tiba-tiba datang dan meminta pertanggung jawabanku untuk menjadi kekasihmu. Apa maksudmu? Memang apa yang sudah ku lakukan?”, tanyaku dengan nada suara sedikit lebih tenang setelah mati-matian mengontrol emosiku.

Dia terdiam sejenak sambil menatapku lagi. Rupanya sedang memproses pertanyaanku barusan.

“Tentu saja kau harus bertanggung jawab. Karena kau sudah mengubah niatku untuk masuk ke private boys school jadi masuk ke sekolah campuran seperti ini”, katanya pelan, namun cukup jelas.

OMMOOO!!! Alasan macam apa ini? Itu kan bukan urusanku.

“Kau juga sudah membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama, sehingga aku mengejarmu ke sini. Jadi sekarang kau harus bertanggung jawab. Apa kau mengerti?”

WHAT

.

THE

.

HELL!!!!

“Nah, sekarang jangan banyak bicara lagi. Ayo kuantar ke kelas”, katanya sambil lagi-lagi menggamit lenganku. Astaga, bocah ini!

“Berhenti!!”, sentakku sambil menarik tanganku dari genggamannya. Dia lagi-lagi berbalik menghadapku.

“Apa lagi?”, katanya kesal dengan wajah tampan tapi pabbo-nya.

Aku merengut kesal. “Kau ini bodoh atau apa sih?! Kau bahkan belum mendengar jawabanku!!”, seruku marah. Aish, setelah ini sepertinya aku harus minum obat penurun tekanan darah.

Dia diam sambil menatapku. “Arraseo… Apa jawabanmu?”

“Aku tidak mau!”, kataku tegas sambil menatap tepat ke dalam matanya.

“MWO??”, serunya terkejut. “Tapi kau harus bertanggung jawa – “

“Itu bukan urusanku!”, potongku. Dia melebarkan bola matanya. “Aku bahkan belum pernah bertemu denganmu sebelumnya. Jadi semua yang terjadi padamu itu bukan salahku!”, aku terengah. Kenapa rasanya lelah sekali menghadapi bocah keras kepala satu ini.

Dia terlihat shock mendengar ucapanku. “Ta– Tapi.. Aku mencintaimu”

 

‘Aku mencintaimu’

“Hentikan…”, ujarku lirih sambil menundukkan kepalaku. Sekelebat bayangan masa lalu tiba-tiba berputar di kepalaku. Kurasakan wajahku memanas.

“Hentikan…”, ucapku lagi, sedikit terisak. Kurasakan mataku menghangat. Aish, kumohon jangan menangis di sini. Sudah cukup aku menjadi tontonan karena namja pabbo ini. Jangan juga aku menjadi tontonan karena menangis.

“Hyung..”, kurasakan seseorang menggamit lenganku. Ah, pasti Wookie.

“Kyu, sudah. Hentikan”, kali ini kudengar suara bariton yang kuyakin milik Choi Siwon.

“Siwon, ajari sepupumu ini sopan santun. Jangan seenaknya saja berbuat bahkan sampai menyakiti Minnie kami!”, sekarang kudengar suara tegas Sang Ketua Penegak Kedisiplinan, Kim Heechul yang bicara.

“Kuantar ke kelas, hyung”, kata Wookie lembut. Aku mengangguk dan segera melangkah pergi dari tempat ini. Kurasakan beberapa orang ikut mengiringi langkahku, tapi aku sudah tak peduli lagi. Aku hanya ingin segera pergi menjauh dari bocah itu.

Sungmin POV end

***

Kyuhyun POV

Aku masih mematung di tempatku, berusaha mencerna kejadian barusan. Aku tak menyangka ditolak seperti itu oleh orang yang mati-matian ku kejar. Aku bahkan sampai mengubah keinginanku untuk sekolah di private boys school.

Tapi yang membuatku lebih terkejut adalah… Dia menangis? Kenapa? Bukankah seharusnya dia senang ada namja setampan aku memintanya untuk jadi kekasihku? Dan sepertinya semua orang di sini menyalahkanku karena itu. Hei, apa salahku? Aku kan hanya mengajaknya berpacaran.

“Kyu, ayo ke kelasmu”, kudengar suara Siwon-hyung di sisiku. Lalu kurasakan lengannya merangkul bahuku. Aku menoleh ke arahnya.

“Ne, hyung”, jawabku singkat. Kurasa untuk saat ini menuruti kata-kata hyung-ku ini adalah yang terbaik.

Kyuhyun POV end.

.

.

.

THE END

#dihajar readerdeul

!()&#*!@^&^#&!%!(!)##(#$**$#*$?><*!&!&^*!^(!)&#@!^&#^!%%#

Iyaaaa.. ampuuuunnn..!!! Lanjut deh lanjuuuuttt… Heeeuuuu… ==”a

Beneran nggak bisa diajak bercanda deh…

.

.

.

Normal POV

Sore itu terlihat seorang namja tampan berambut ikal kecokelatan sedang duduk di atas kasurnya sambil memainkan PSP kesayangannya. Dia memang terlihat sedang memainkan PSP-nya, namun ia tidak bermain dengan serius. Moodnya sedang benar-benar buruk, hingga ia mengacuhkan dering dari ponselnya yang berkedap-kedip memunculkan nama “Evil Changmin” di layarnya.

TOK TOK

Terdengar pintu kamarnya diketuk, lalu sejurus kemudian, tanpa meminta persetujuan si empunya kamar  untuk masuk, pintu itu terbuka, memunculkan seorang namja yang tak kalah tampan dan bertubuh atletis serta memiliki senyum sangat menawan, suami dari uri Choi Hyo Joon a.k.a NC (yang ini fitnah), Choi Siwon.

“Hei, Kyu”, sapa Siwon sambil duduk di tempat tidur Kyuhyun dan memperhatikan apa yang sedang dilakukan adik sepupunya itu.

Kyuhyun hanya mengacuhkan sapaan Siwon dan tetap (pura-pura) berkutat dengan PSP-nya. Siwon tersenyum tipis. Bertahun-tahun menjadi ‘pengawal’ Kyuhyun, membuatnya hafal dengan kelakuan Kyuhyun. Dan Siwon sangat tahu apa yang sedang terjadi pada Kyuhyun saat ini. Ya, Kyuhyun, si evil magnae, sedang bad mood. Siwon juga 1000% yakin kalau sebenarnya Kyuhyun tidak serius memainkan PSP-nya.

“Kau tahu,”, mulai Siwon. “Aku benar-benar terkejut saat tadi kau menembak Sungmin”. Siwon berhenti sejenak menunggu reaksi dari Kyuhyun. Namun Kyuhyun masih terlihat acuh, sehingga Siwon memutuskan untuk melanjutkan perkataannya.

“Aku saja yang menyukai Sungmin sejak kelas 1 tidak berani menembaknya seperti itu”, berhasil. Ucapannya berhasil memancing Kyuhyun. Dilihatnya Kyuhyun berhenti sejenak dan memencet tombol PAUSE.

“Mwo? Wae?”, tanya Kyuhyun. Dia benar-benar terkejut mengetahui kakak sepupunya yang terkenal cool dan digilai banyak yeoja (dan namja) ternyata menyukai seorang Lee Sungmin, namja musim gugurnya.  “Kenapa Siwon-hyung tidak berani? Sungmin tidak terlihat galak atau berbahaya sama sekali”. Terlihat sekali kalau ia penasaran. Siwon lagi-lagi hanya tersenyum.

“Kau tahu, Sungmin adalah salah satu namja yang memiliki banyak fans di sekolah. Ia tak pernah keluar dari TOP 10 The Most Wanted Boys di SuJu High”, lanjut Siwon. Kyuhyun mengerutkan kening. TOP 10 The Most Wanted Boys?

“Apa pula itu?, tanya Kyuhyun sambil mengernyitkan alisnya. Siwon tertawa kecil.

TOP 10 The Most Wanted Boys awalnya hanya polling main-main dari beberapa orang yang ingin tahu seberapa populernya seseorang di SuJu, namun kemudian menjadi tradisi dan menjadi hal yang serius, dan kini menjadi ajang bergengsi di SuJu High untuk melihat ketenaran seseorang, dan melihat seberapa berpengaruhnya orang tersebut di sekolah”, jelas Siwon. Kyuhyun memutar bola matanya. Polling bodoh!

“Dan aku yakin sekarang kau sudah masuk ke dalam jajaran TOP 10 The Most Wanted Boys itu, Kyu. Melihat kehebohan yang kau timbulkan setiap hari”, Siwon tak dapat menahan kekehannya ketika melihat Kyuhyun merengut.

Polling bodoh, dan orang-orang bodoh!”, sungut Kyuhyun. Siwon terdiam.

“Itu bukan polling bodoh, dan orang-orang yang masuk ke dalam jajaran TOP 10 The Most Wanted Boys juga bukan orang-orang sembarangan”, Kyuhyun agak terkejut mendengar  nada bicara Siwon, juga ekspresi yang mengeras di wajah Siwon. Memang hanya sebentar, tapi Kyuhyun sempat menangkapnya.

“Orang-orang yang masuk ke dalam TOP 10 The Most Wanted Boys adalah orang-orang pilihan dan memiliki prestasi atau kelebihan. Jangan lupakan pengaruh yang ia timbulkan juga, karena mereka biasanya memiliki banyak fans yang akan dengan setia mendukung mereka. Sekali mereka mengatakan sesuatu, itu bagaikan sebuah hukum atau perintah bagi fansnya”, Siwon berhenti sejenak untuk mengambil nafas.

“Sangat susah mempertahankan kedudukanmu di TOP 10 The Most Wanted Boys”, lanjut Siwon sambil memainkan jemarinya. “Mungkin minggu ini kau masuk ke dalamnya, jangan harap minggu depan kau masih ada di tempat yang sama”, Kyuhyun tercenung mendengar penjelasan Siwon. Seserius itukah?

“Aku saja pernah beberapa kali keluar-masuk dalam jajaran itu, yah, walaupun akhirnya aku menjadi nomor satu terus dalam beberapa bulan ini”, Siwon memamerkan cengirannya. Kelihatan sekali kalau ia bangga dengan ‘prestasi’nya itu. Kyuhyun memutar bola matanya malas. Hyung-nya ini memang narsis!

“Dan Sungmin adalah salah satu dari sedikit orang yang tak pernah keluar dari TOP 10 The Most Wanted Boys selain Lee Donghae dan Kim Joong Woon, atau dikenal dengan nama Yesung, namja yang kau lihat bersama Sungmin waktu itu. Yang kepalanya besar”, kata Siwon melanjutkan penjelasannya. Kyuhyun mengangguk, ia ingat orang itu.

“Memang Sungmin tak pernah jadi nomor satu sih, eh… umm.. kayaknya pernah deh”, Siwon terlihat berfikir. “Tapi seringnya tidak nomor satu. Walaupun begitu, ia tidak pernah sekalipun keluar dari TOP 10 The Most Wanted Boys. Dan itu terjadi sejak kelas satu”, Mata Kyuhyun melebar. Tak menyangka Sungmin-nya (sejak kapan Sungmin jadi milikmu Kyu?) sehebat itu.

“Dan Sungmin merupakan salah satu dari TOP 10 The Most Wanted Boys dengan basis fans terkuat, yang menamakan diri mereka iSungmin”, lagi-lagi Kyuhyun terkaget-kaget dengan fakta baru ini. Wow, batinnya. Apa yang membuat Sungmin sehebat itu?

Seperti tahu apa yang dipikirkan dongsaengnya, Siwon kembali menjelaskan. “Ia baik hati, ramah, dan bersahabat dengan siapapun. Ayahnya adalah pemilik SendBill Corporation. Dan dia adalah pewaris utamanya. Kudengar malah sekarang ia sedang ditraining oleh ayahnya untuk menjadi CEO-nya”, Kyuhyun membelalak mendengar hal ini. SendBill? Itu kan perusahaan E-Business terbesar di Korea. Astaga…

“Walaupun begitu, Sungmin selalu berusaha tampil sederhana dan tidak memilih-milih teman. Ia memiliki banyak kebisaan. Talentanya di berbagai bidang. Martial arts, dance, menyanyi, main alat musik. Kau tahu, ia juga pintar memasak lho. Ia pernah memasak untuk kami di summer camp waktu kelas dua dulu dan rasanya lumayan enak”, Kyuhyun melihat tampang “daydream” hyung-nya saat menceritakan segala hal tentang Sungmin. Wait! Jangan bilang kalau Siwon adalah fans-nya Sungmin. Tapi wajar sih. Tadi kan Siwon bilang kalau dia suka sama Sungmin.

“Tapi alasan utama ia masuk di TOP 10 The Most Wanted Boys adalah tampang aegyo-nya yang kelewatan hingga dijuluki The King of Aegyo”, Siwon terkekeh. “Seperti yang kemarin kukatakan, ia terlihat imut bahkan tanpa melakukan apapun. Ditambah sifat ramah dan bersahabatnya, serta berbagai keahlian yang dikuasainya, jadilah ia idola banyak orang”. Kyuhyun mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Jadi itu maksudnya julukan The King of Aegyo untuk Sungmin.

“Seperti yang kukatakan tadi, orang-orang yang masuk ke dalam TOP 10 The Most Wanted Boys memiliki pengaruh yang kuat di sekolah. Termasuk Sungmin, yang juga punya basis fans yang cukup kuat. Dan tadi sepertinya kau membuat masalah dan membuat mereka marah”, Kyuhyun terhenyak mendengar penjelasan dari Siwon. Pantas saja tadi ia melihat banyak tatapan tajam mengarah kepadanya. Aish… Semoga besok ia selamat dari amukan fans-nya Sungmin.

Tiba-tiba Kyuhyun teringat sesuatu.

“Hyung, tadi hyung bilang hyung tidak berani menyatakan perasaan pada Sungmin. Padahal menurut penjelasan hyung, ia ramah dan bersahabat dengan siapapun. Kenapa?”, tanya Kyuhyun penasaran.

Ya, siapa sih yang bisa menolak pesona seorang Choi Siwon? Ia menjadi nomor satu di TOP 10 apalah itu namanya, ketua OSIS dan kapten tim basket, pintar dan berbakat, memiliki wajah dan tubuh dambaan setiap pria (bukannya Kyuhyun suka atau apa pada hyung-nya ini, ia hanya mengungkapkan fakta), hyung-nya juga anak orang kaya, secara ia pewaris Hyundai Corporation,  ramah dan baik hati (walau sedikit playboy, hihihi..). Nah, kurang apa coba?

Siwon tersenyum tipis, ia menunduk, memandang jemari tangannya yang ia main-mainkan. “Karena ada Zhoumi”, jawabnya singkat.

Alis Kyuhyun terangkat. Zhoumi? Siapa pula itu?

.

.

.

TBC

THAT EVIL WHO LOVES ME – CHAPTER 2

Image.

.

.

~oO0Oo~

Birthday gift for Meme Ramuca alias Memecum

Author : Aiko Sungmin Lee

Pairing : KyuMin / slight ZhouMin

Summary : Kisah perjuangan seorang bocah evil mengejar “namja musim gugur”-nya

~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo

Di Chapter sebelumnya..

“Minnie? Min..??”, Siwon mengguncang bahuku pelan. Aku tergagap sadar dari keterkejutanku. Dan menatap horror ke arahnya.  “Gwenchana?”, tanyanya khawatir.

“A- Ah.. Ne.. Gwe-“

“Siwon-hyung!!”

._._._._._._._._._._._._._._._._ ._._._._._._._._._._._._._._._._ ._._._._._._._._._._._._._._._.

Chapter 2

Sungmin POV

“Siwon-hyung!!”, tiba-tiba dari arah pintu terdengar seseorang memanggil Si Senyum 1000 watt ini.

Aku menatap ke arah pintu dan kulihat… makhluk –yang harus dengan sangat terpaksa kuakui – tampan, sumber dari segala keributan dan kebrutalan para yeoja yang bertambah menjadi beberapa kali lipat dari sebelumnya akhir-akhir ini, bocah yang kini menduduki peringkat kedua setelah Siwon (jangan tanya dari mana aku tahu informasi tak penting untukku ini) di TOP 10 The Most Wanted Boys di sekolah ini, Cho Kyuhyun.

Dia memandang ke arah kami dengan tatapan… tidak suka? Eh? Kenapa?

“Hei, Kyu!!”, dengan segera Siwon berjalan ke arahnya. Tampak Siwon berbincang-bincang dengan Kyuhyun, dan tanpa sengaja, Kyuhyun memandang ke arahku. Tatapannya tajam dan agak.. mematikan(?), jadi aku buru-buru mengalihkan pandanganku ke arah bekal di hadapanku.

“Hyung?”, Wookie memanggilku. Aku mengangkat wajahku, menatap ke arahnya. Ia menatapku dengan khawatir.

“Gwenchana, Wookie”, sahutku lemah. Aku masih shock dengan kejadian tadi. “Ayo kita lanjutkan makannya”, kataku lagi, memaksakan sebuah senyum agar Wookie tak khawatir lagi.

Wookie masih menatap ke arahku, lalu.. GREP! Ia menggenggam kedua tanganku. “Sudah, hyung. Jangan dipikirkan lagi kejadian tadi, arra?”, katanya.

Aku tersenyum. Wookie kecilku ini benar-benar anak yang baik. Kulepaskan tanganku yang ada di dalam genggamannya, lalu kuacak sayang rambutnya.

“Arrasso. Ayo kita lanjutkan makannya, Wookie, Yesung!”, kataku sambil tersenyum. Perhatian Wookie padaku sukses membuatku merasa lebih baik. Kudengar Yesung menggumamkan sesuatu, tapi aku tak mempedulikannya dan segera melanjutkan acara makan siangku yang sempat terinterupsi tadi.

Sungmin POV end.

***

Kyuhyun POV

Aku melangkah menyusuri koridor kelas 3 ini. Sudah beberapa hari ini aku terus mencarinya di seantero sekolah. Waktuku sudah banyak terbuang. Ternyata tidak semudah yang kuduga untuk menemukannya. Selain karena sekolah ini yang cukup luas, juga karena selalu saja ada gangguan dari para yeoja, bahkan namja yang menyatakan perasaannya padaku. Sudah tak terhitung lagi berapa orang yang menyatakan perasaan mereka padaku dan terang-terangan mengajakku berpacaran. Aish! Menyebalkan! Belum lagi berbagai macam ajakan untuk masuk ke dalam klub-klub ekstrakurikuler atau kegiatan-kegiatan di sekolah lainnya. Ck! Tak tahukah kalian semua kalau aku sedang melaksanakan sebuah misi penting?

Setiap ada waktu senggang aku memutari sekolah ini, untuk mencari namja musim gugur –begitulah aku menyebutnya, karena tak tahu namanya– itu. Ku tepis opsi untuk mencari di kelas 1 karena itu tidak mungkin. Jadi pekerjaanku sedikit berkurang. Sudah hampir semua bagian sekolah kujelajahi dan yang tersisa tinggal bagian sayap kanan gedung sekolah ini, area kelas 3. Dapat kurasakan banyak mata tertuju ke arahku. Mulai dari tatapan penuh blink-blink dari yeoja-yeoja genit, sampai tatapan malu-malu tapi mau yeoja yang (mungkin) pemalu dan kalem, tatapan nafsu para seme, dan tatapan mupeng para uke. Huh! Maaf saja ya, kalian semua. Tapi aku sudah tertarik pada satu orang saja. Si ‘namja musim gugur’-ku  yang super manis dan imut itu.

Beruntung aku dapat melangkah dengan leluasa tanpa gangguan para yeoja histeris yang biasanya mengerubutiku. Mulanya memang mereka selalu berusaha mengikuti langkahku ke manapun aku pergi. Namun setelah mendapat ultimate death glare dari The King of Evil, Lord Cho Kyuhyun, yang sangat mengerikan ini, mereka langsung mundur dan membiarkanku pergi dengan tenang.

Aku terus menyusuri lorong kelas 3 ini sambil terus melihat-lihat ke kelas-kelas yang kulewati. Terus berusaha mencari keberadaan namja yang telah berhasil membuatku makan tak enak, tidur tak nyenyak dan kehilangan nafsu battle PSP dengan sahabatku, sesama setan juga, Shim Changmin.

Ketika melintasi sebuah kelas, aku terpaku. Dia… ada di sana! Si namja musim gugur yang super cantik dan imut itu ada di sana! Walaupun ia telah mengganti warna rambutnya menjadi pirang, aku tetap mengenali mata kelincinya yang lucu dan wajahnya yang imut menggemaskan itu.

Tapi aku langsung merengut. Apa-apaan dia itu? Makan siang sambil dikelilingi makhluk-makhluk yang tidak bisa dibilang jelek di sekelilingnya. Ada seorang namja mungil yang juga imut – walau tak seimut dia sih– di hadapannya, lalu seorang namja tampan berkepala besar dengan mata sipitnya, dan seorang lagi… mataku melebar. Seorang namja, yang walaupun membelakangi pintu tapi aku sangat mengenalnya, sedang mengusap sudut bibir namja musim gugurku dengan ibu jarinya yang masih menatapnya dengan pandangan horror. Tiba-tiba aku merasa sangat kesal, hatiku panas… Orang itu…

“Siwon-hyung!!”, seruku tanpa bisa menahan diri lagi. Aku kesal melihat hyung-ku itu seenaknya saja menyentuh namja musim gugurku. Apa hubungan Siwon-hyung dengannya?

Siwon-hyung langsung menoleh ke arahku. Kurasakan tatapan orang-orang di meja itu juga mengarah kepadaku, termasuk namja musim gugurku.

“Hei, Kyu!!”, Siwon-hyung tampak terkejut melihatku yang ada di depan kelasnya. Ia segera mendekatiku.

“Tumben. Ada apa ke kelasku?”, tanya Siwon-hyung setelah ada di hadapanku.

“Hanya berjalan-jalan saja kok. Ingin mengenal lingkungan sekolah ini”, jawabku asal. Alis Siwon-hyung terangkat. Heyooo…. sejak kapan Cho Kyuhyun peduli dengan lingkungan sekolahnya? Aku tahu itu yang ada di pikiran hyung-ku ini. Tapi aku tak peduli.

“Jadi ini kelasmu hyung?”, tanyaku lagi basa basi sambil sekilas mencuri pandang ke arah meja tempat namja musim gugurku berada. Ia tampak masih mengamati kami, namun begitu pandangan kami bertemu, ia langsung mengalihkan pandangannya dariku, membuatku kecewa.

“Ne. Selamat datang di kelas 3-A, kelas siswa pilihan di SuJu High”, katanya berpromosi. Aku mengangkat alisku. Kelas siswa pilihan?

“Kau sedang apa hyung? Kok tidak ke kantin?”, tanyaku lagi. Aku ingin tahu apa yang tadi dilakukan hyungku bersama si namja musim gugur nan manis dan imutku itu.

“Aku tak sempat ke kantin karena baru saja selesai mengerjakan tugas OSIS”, ya, aku baru ingat kalau Siwon-hyung adalah ketua OSIS. “Lalu begitu ke kelas, aku malah ditawari makan bersama oleh Minnie, jadi aku bergabung bersama mereka untuk makan siang”, kata Siwon-hyung sambil bergestur menunjuk kelompok kecilnya itu dengan mengedikkan dagunya. Minnie?

“Minnie?”, tanyaku tak mengerti. Mataku menatap kelompok kecil itu, dan mataku melebar. Si namja mungil dan imut itu menggenggam tangan namja musim gugurku dengan tatapan khawatir. Namun sejurus kemudian, namja musim gugurku itu malah mengacak rambut si mungil dengan penuh kasih sayang. WTH!!!

Siwon-hyung tersenyum sambil menatap ke arah kelompok kecil itu. “Iya, Minnie. Lee Sungmin. The King of Aegyo-nya SuJu High”, jelas Siwon-hyung sambil senyum-senyum –yang terlihat mesum di mataku– gimanaa… gitu. Cih!

Apa tadi katanya? The King of Aegyo?

“What?”, tanyaku tak mengerti. Siwon-hyung tertawa renyah melihat tampang pabbo-ku, membuat dua lesung pipitnya terlihat, dan sukses mengundang jerit “KYAAAAAAA!!!!” dari yeoja-yeoja yang kebetulan ada di sekitar kami. Aih, mereka itu…

“Iya, Lee Sungmin. Yang rambutnya pirang itu, lho. Dia manis sekali kan? Bahkan tanpa dia berbuat apa-apa dia sudah terlihat aegyo. Tunggu sampai kau melihat puppy eyes-nya yang membuatmu semakin gemas dan ingin memakannya saat itu juga”, kata Siwon-hyung sambil tertawa kecil. Wajahnya memerah. WHAT??? Siwon-hyung tersipu?

Aku cukup shock mendengar kalimat terakhir Siwon-hyung. Apa maksudnya ingin memakannya? Apa jangan-jangan… Kutatap horror hyung-ku itu.

Ternyata namja musim gugurku itu bernama Lee Sungmin. Dan ia mendapat julukan “The King of Aegyo”? Yah, tapi kurasa memang cocok sih… secara dia seimut itu.

“Oh..”, kataku pelan tanpa berkomentar lebih jauh. Tiba-tiba bel masuk berbunyi dengan nyaring. Aku berdecak kesal.

“Aku kembali dulu ke kelas hyung”, kataku pada Siwon-hyung yang langsung dibalas dengan anggukan. Aku melangkah meninggalkan kelas Siwon-hyung sambil melirik sekilas ke arah namja musim gugurku, Lee Sungmin.

Kyuhyun POV end.

***

Normal POV

Seorang namja imut nan manis berambut pirang tampak berdiri dengan gelisah di taman belakang sekolah. Ia datang ke tempat ini karena sebuah surat yang dikirimkan oleh seseorang melalui adik kelasnya. Bel pulang sudah terdengar sejak 15 menit yang lalu, dan ia menyuruh Wookie menunggunya di pintu gerbang. Tak lama kemudian ia mendengar langkah kaki mendekat. Ia terkejut saat melihat siapa yang datang.

“Lee Donghae-sshi?”

“Ne, Sungminnie”, balas yang disapa sambil tersenyum, membuat wajah tampannya semakin tampan.

Sungmin mendecak kesal dalam hati. Kenapa sih, semua orang sepertinya suka sekali berakrab-akrab ria dengannya dengan memanggilnya dengan nama panggilan seperti itu?

“Kau yang mengirimkan surat kepadaku?”, tanya Sungmin hati-hati.

Lagi-lagi namja tampan di hadapannya yang diketahui bernama Lee Donghae tersenyum. “Ne”, jawabnya singkat.

“Mmm.. sebenarnya ada perlu apa memanggilku ke sini?”, tanya Sungmin lagi. Uh, jangan bilang kalau…

“Saranghae, Sungmin-ah”, mata Sungmin melebar mendengar sebaris kalimat – yang sudah diduganya – itu. “Aku benar-benar menyukaimu. Apa kau mau jadi namjachinguku?”

Untuk sesaat mereka berdua terdiam. Sungmin masih berusaha mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan Donghae.

Tiba-tiba terdengar Donghae tertawa kecil, membuat Sungmin yang menunduk menatap kearahnya.

“Tak perlu dijawab sekarang, kok. Kau boleh berpikir – “

“Mian”, kata Sungmin pelan, namun cukup terdengar jelas di telinga Donghae. “Jeongmal mianhe Donghae-sshi. Aku tidak bisa”

Donghae menatap Sungmin dengan intens. Lalu lagi-lagi ia tertawa kecil. “Jadi begitu ya. Baiklah, tak apa. Aku hanya ingin kau tahu perasaanku. Aku tahu tak mudah bagimu menerima seseorang yang baru setelah…”, Donghae tak melanjutkan kalimatnya ketika dilihatnya Sungmin semakin menundukkan kepalanya.

“Ah, mianhe Sungmin-ah. Aku tak bermaksud…”, Donghae tahu ia telah menyentuh hal yang sensitif bagi Sungmin.

Perlahan Sungmin mengangkat kepalanya, dengan senyum yang –jelas sekali terlihat– dipaksakan. “Gwenchana, Donghae-sshi. Tak apa”

Donghae sedikit terpana dengan ekspresi wajah yang ditampilkan Sungmin. Bahkan ketika sedih pun dia terlihat semanis ini? Aigoo… batin Donghae gemas.

“Sekali lagi mian, Sungmin-ah. Baiklah, kalu begitu aku pulang dulu”, kata Donghae sambil memamerkan senyum manisnya lagi. “Oh, ya, tolong jangan panggilaku Donghae-sshi lagi. Membuatku jadi merasa tua. Aku ingin kita bisa berteman dengan lebih baik mulai sekarang. Jadi panggil aku Donghae saja, arra?”

Sungmin tersenyum, kali ini senyum yang tulus tanpa paksaan. “Arasseo, Hae”

Donghae mengangkat alisnya mendengar nickname Sungmin untuknya. “Ya, begitu lebih baik, Minnie”, katanya senang. Sungmin mengangguk.

“Oke. Bye, Minnie”

“Bye, Hae”

***

“Hyung!”, seru Wookie sambil melambaikan tangan ke arah Sungmin begitu dilihatnya hyung tersayangnya berlari kecil ke arahnya.

“Mianhe, Wookie. Kau menunggu lama ya?”, kata Sungmin menumpukan kedua tangannya di atas lutut sambil sedikit terengah.

“Ani. Tak lama kok hyung. Apa urusannya sudah selesai?”

Sungmin mengangguk.

“Siapa lagi kali ini?”, tanya Wookie menyelidik. Sungmin menatap Wookie, lalu tersenyum getir.

“Lee Donghae”, jawabnya singkat sambil membetulkan letak tas di bahunya.

Wookie membelalakkan matanya. “LEE DONG- Hmmpphh..”, teriakannya terputus karena Sungmin tiba-tiba membekap mulutnya.

“Tak perlu berteriak kan, Wookie!”, kata Sungmin kesal.

“Mianhe, hyung”, kata Wookie setelah berhasil mengontrol volume suaranya. “Tapi.. Tapi… ini Lee Donghae! Lee Donghae yang ‘itu’ kan?”, bisik Wookie histeris(?)

Sungmin mengangguk lemah. “Ne, Wookie. Lee Donghae yang ‘itu’ “. Kata Sungmin lagi. “Sekarang ayo pulang”, ajak Sungmin sambil menyeret Wookie.

Di belakang Sungmin, sambil pasrah diseret-seret oleh hyung-nya, Wookie menatap Sungmin dengan iba. Bahkan namja sekelas Lee Donghae, si tampan pedancer terhebat se-Seoul, ditolak oleh hyung-nya?

‘Aish, hyung. Sampai kapan kau mau menutup hatimu seperti ini?’, batin Wookie.

Normal POV end

***

Sungmin POV

Seperti biasa, pagi itu aku melangkah memasuki gerbang sekolah bersama Wookie di sebelahku. Dan penglihatanku langsung menangkap pemandangan ‘heboh’ seperti biasa. Gerombolan yeoja yang mengerubuti seorang namja tampan yang beberapa hari ini menjadi idola mereka. Yah, siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun?

Aku meringis kecil, dalam hati mengasihani nasib Cho Kyuhyun yang sesial itu. Beruntung aku (hampir) tak pernah mengalaminya. Pernah sih, dulu. Duluuuu… sekali saat pertama kali aku masuk sekolah ini, di kelas satu, aku juga mengalami hal yang sama. Dan kau tahu? Rasanya benar-benar tidak enak! Sangat menyebalkan dan mengganggu gerakku. Namun beruntung ada seseorang yang kemudian melindungiku…

Ah…! Aku cepat-cepat menggelengkan kepalaku keras-keras, berusaha menghentikan pikiranku yang aku tahu akan berlanjut ke mana. Sudahlah Sungmin, semua sudah berakhir, kataku pada diriku sendiri.

Beberapa orang menyapaku hangat seperti biasa. Dan aku pun membalas sapaan mereka, sambil sesekali memandang ke arah gerombolan yeoja penggemar Cho Kyuhyun yang sepertinya bukannya berkurang malah semakin bertambah banyak.

Tiba-tiba pandangan kami bertemu. Dia menatapku dengan intens sebelum kemudian melangkah dengan pasti ke arahku. Aku menaikkan sebelah alisku. Mau apa bocah ini? Feelingku mengatakan akan ada sesuatu yang buruk akan terjadi.

Setelah sampai di hadapanku ia menatapku dengan tajam. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, tak mengerti kenapa ia bertingkah seperti ini? Kenal juga tidak. Semua orang terdiam, seperti menahan nafas menantikan apa yang selanjutnya akan terjadi.

“Kau Lee Sungmin?”, suaranya berat dan dalam. Aku mengangguk pelan.

“Aku ingin minta pertanggung jawabanmu atas apa yang kau lakukan padaku,” dapat kudengar orang-orang disekitarku ber-HAH??

“Kau harus jadi kekasihku”.

WHAAAATTTT??????

Sungmin POV end.

.

.

.

TBC

THAT EVIL WHO LOVES ME – CHAPTER 1

Image

.

.

.

~oO0Oo~

Birthday gift for Meme Ramuca alias Memecum tanggal 20 April 2011

Author : Aiko Sungmin Lee

Pairing : KyuMin / slight ZhouMin

Summary : Kisah perjuangan seorang bocah evil mengejar “namja musim gugur”-nya

~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~oO0Oo~

Chapter 1

Sungmin POV

Kulangkahkan kaki memasuki gerbang sekolah pagi ini. Tampak siswa siswi lain yang juga telah berdatangan membaur di kiri kananku. Seperti biasa, sapaan-sapaan hangat langsung menghampiriku dari beberapa –err.. sebenarnya lumayan banyak, sih– siswa -siswi yang kujumpai.

“KYAAAA~~ SUNGMIN OPPA…!!!”

“PAGI SUNGMIN SUNBAE~~”

“SUNGMIN-AH HARI INI TETAP TERLIHAT IMUUUTTT…”

“KYAAA~~ MINNIE AEGYOOO…”

“LIHAT RAMBUT PIRANGNYA!!! IMUTNYAAA~~”

“MINNIEE….CANTIKNYAAA… JADI PACARKU YAA??” –untuk komentar yang ini, aku langsung memutar bola mataku–

Dan seperti biasa pula, aku hanya bisa memberikan senyum dan mengangguk sopan pada mereka semua. Tiba-tiba dari arah belakangku terdengar sorak sorai dan teriakan histeris para yeoja meneriakkan nama seseorang.

“KYUHYUN-SSHI…!!!”

“KYAAA…!! KYUHYUUUNN OPPA..SARANGHAAEEEE…!!!”

“KYUUU… LOVE YOOOUUUU!!!”

“KYUHYUUUNN… LIHAT SINI DOOONNGGG!!!”

Dan teriakan-teriakan semacam itu yang sangat memekakkan telingaku.

Kuhentikan langkahku untuk melihat ke arah sumber kehebohan itu. Seorang pemuda tinggi dan –dengan sangat terpaksa kuakui– sangat tampan, melangkah dengan penuh percaya diri memasuki area sekolah dengan dikerumuni para yeoja (dan namja?) yang dengan brutal meneriakkan namanya. Aku memutar bola mataku. Haa..h lagi-lagi begitu. Kenapa sih, mereka suka sekali berteriak-teriak seheboh itu? Sungguh mengganggu ketentraman sekolah yang pada dasarnya sudah sering terganggu akibat pekikan dan jeritan senada jika ada salah satu atau beberapa namja yang termasuk TOP 10 The Most Wanted Boys lewat. Dan sepertinya namja itu sudah masuk ke dalam jajaran TOP 10 The Most Wanted Boys melihat reaksi yang ditimbulkan karena kehadirannya –sepertinya Sungmin nggak sadar kalo dia juga masuk TOP 10 The Most Wanted Boys, secara dia juga habis diteriaki seperti itu. Aish..–.

Karena kejadian itu, juga cerita-cerita heboh para yeoja yang tak henti-hentinya membicarakan dia di manapun dan kapanpun, aku jadi tahu siapa nama namja itu. Cho Kyuhyun, kelas 1-A, anak pemilik yayasan sekolah ini, sepupu Choi Siwon. Tampan, pintar, kaya, cool, dan entah apa lagi pujian para yeoja itu kepadanya. Aish…

Tiba-tiba kurasakan seseorang menarik lengan blazerku.

“Hyung..”, ah, iya. Aku lupa kalau sekarang aku sedang bersama seseorang.

“Ne, Wookie?”, kataku sambil menatapnya.

“Gwenchana?”, tanyanya lagi.

“Gwenchanayo, Wookie. Nah, ayo kita segera ke kelas sebelum ditabrak oleh rombongan yeoja histeris itu”, kataku sambil sedikit bercanda.

Wookie terkikik mendengar perkataanku. “Ne, hyung. Kajja!”.

Kemudian aku dan Wookie melanjutkan perjalanan. Kami berpisah di lorong utama. Wookie belok ke kiri untuk menuju ke kelasnya, kelas 1, sedangkan aku masih harus naik ke lantai 2 di sayap sebelah kanan gedung karena kelasku adalah kelas 3.

Sungmin POV end

***

Kyuhyun POV

Dengan menahan kekesalan, aku memasuki ruang kelasku. Hampir saja aku mati tadi karena kebrutalan para yeoja gila yang mengerubuti dan tak henti-hentinya meneriakkan namaku dengan heboh sejak awal aku memasuki gerbang sekolah dan turun dari mobil. Kalau saja aku tidak ingat kalau mereka itu adalah yeoja, aku pasti sudah menghajar mereka semua agar mereka tahu rasa. Aku tahu kalau aku ini tampan dan penuh daya tarik yang mempesona #iihh.. Kyu narsis!#. Tapi please deh, nggak perlu segitunya kan? Kalau tidak ingat niat awalku masuk ke sekolah ini, malas aku mendaftar jadi siswa di sekolah ini walaupun appaku adalah penyumbang dana terbesar di sini. Lebih baik masuk ke SM High, private boys school yang kuyakin akan aman dari gangguan yeoja-yeoja histeris dan brutal seperti ini.

Ngomong-ngomong tentang niat awalku masuk ke sekolah ini, aku jadi ingat kalau aku HARUS mencari orang itu! Ya, orang yang membuatku mengubah keinginanku masuk ke private boys school dan masuk ke sekolah campuran macam SuJu High ini. Sejak hari pertama masuk ke sekolah ini, aku belum juga menemukannya. Aku tahu aku gila. Aku bahkan tidak tahu namanya, juga tidak tahu dia itu kelas berapa. Bisa saja kan, kalau tahun kemarin dia kelas 3, sehingga saat ini pasti sudah lulus dan keluar dari sekolah ini? Tapi aku tak peduli. Yang penting aku masuk dulu ke sekolah ini. Masalah siapa dia sebenarnya, itu urusan gampang.

Ah, aku jadi ingat ketika pertama kali aku melihatnya saat itu, musim gugur tahun lalu…

-Flashback-

Sore ini aku berjalan dengan sedikit tergesa dan tak henti-hentinya menggerutu. Kurapatkan jaketku dan memperbaiki letak earphone di telingaku. Mulutku mengeluarkan sumpah serapah dan tak henti mengutuk Siwon-hyung, kakak sepupuku, orang yang bertanggung jawab akan keadaanku saat ini. Dia berjanji akan menjemputku pulang dari sekolah lalu kami akan bersama-sama ke game center untuk main, tapi ternyata tiba-tiba dia membatalkan secara sepihak dengan alasan pacarnya memintanya menemaninya mencarikan kado untuk ummanya yang berulang tahun. WHAT THE HELL!! Lagi-lagi aku kalah dengan pacarnya!

Dan jadilah aku seperti ini sekarang. Setelah satu jam menunggu di depan gerbang sekolah, kini aku malah harus berjalan sendirian di tengah kencangnya angin musim gugur untuk pulang. Awas saja kau Hyung! Kau akan menerima pembalasan yang berkali-kali lipat lebih menyakitkan dariku. Hehehe.. tanpa sadar aku tersenyum setan sambil otakku menyusun rencana pembalasan untuk Siwon-hyung. Nyahahaha…

Tiba-tiba angin berhembus dengan kencang. Menerbangkan daun-daun dan debu di sekitarku. Secara reflek,  kututupi wajahku dengan sebelah tanganku. Saat kurasa angin sudah agak mereda, kuturunkan tanganku, dan saat itulah.. aku merasa jantungku berhenti berdetak karena pemandangan di hadapanku, dan tanpa sadar membuatku menghentikan langkahku.

Seorang namja berwajah sangat manis dan imut, tampak berdiri sendirian di bawah pohon mapple yang daunnya telah berubah menjadi kuning kemerahan dan berguguran di sekitarnya. Ia terlihat sangat sedih, namun entah kenapa di mataku, wajah sedihnya itu terlihat sangat indah. Ditambah lagi dengan efek cahaya keemasan matahari di sore ini, membuat pemandangan di hadapanku menjadi semakin sempurna bak di negeri dongeng.

Ia tak lebih tinggi dariku, bahkan lebih pendek. Ia mengenakan seragam yang mirip dengan seragam sekolah Siwon-hyung, jadi aku mengambil kesimpulan kalau ia berasal dari sekolah yang sama dengan Siwon-hyung. Hanya saja aku tak tahu ia kelas berapa. Kulitnya begitu putih dan sepertinya sangat halus. Rambut hitamnya agak panjang, poninya menutupi sebagian matanya, namun aku masih bisa melihat kesedihan itu di matanya yang sipit bak kelinci. Aku tak percaya. Benarkah dia seorang namja? Jika iya, mengapa bisa ia secantik dan seindah itu? Astaga…

Perlahan ia menengadahkan wajahnya sambil memejamkan matanya. Ah, mungkin ia menahan agar air matanya tak keluar.. tapi.. hei, aku bisa melihat sebutir air mata meluncur di pipi mulusnya. Ingin rasanya aku mendekatinya dan menghapus air mata itu. Tapi kakiku sepertinya terpaku di tempatku berdiri. Setelah beberapa saat, ia menundukkan wajahnya lalu menghapus air mata yang sempat lolos di pipinya. Setelah itu ia terlihat menarik nafas panjang dan menghembuskannya, seolah-olah ingin membuang semua gundah di hatinya. Perlahan ia berbalik lalu melangkah menjauh hingga sosoknya akhirnya menghilang saat ia berbelok di persimpangan jalan.

Setelah sosoknya menghilang, aku menghembuskan nafas yang ternyata tanpa sadar kutahan sedari tadi. Kejadian tadi memang hanya sebentar, namun cukup untuk melenyapkan semua rencana pembalasan dendamku pada Siwon-hyung, dan berganti dengan pemikiranku tentang makhluk indah tadi. Aku berusaha menyadarkan diriku bahwa ia adalah seorang namja, dan berusaha melenyapkan bayangan tadi dari kepalaku. Namun ternyata, sampai aku tiba di rumah dan masuk ke kamarku, bayangan tentang namja tadi tak mau hilang dari kepalaku.

Malamnya, Siwon-hyung datang ke rumah dan meminta maaf kepadaku. Ia tahu jika ia berbuat kesalahan yang dapat membuatku mengamuk karena murka. Ia tahu jika aku tak suka kalau ia membatalkan janjinya secara tiba-tiba dan sepihak, dan ia sudah mempersiapkan dirinya untuk menerima amukan dariku.

“Kyu, maaf ya untuk hari ini. Aku janji akan menggantinya hari Minggu besok. Ya? Pleaassseee…”, Siwon-hyung mengatupkan kedua telapak tangannya di depan wajah tampannya.

Aku memandangnya dengan tatapan blank pada awalnya. Namun kemudian tersenyum lembut ke arahnya sambil berkata, “Gwenchana hyung, tidak usah dipikirkan. Aku mengerti kok”.

Dan jawaban dariku itu sukses membuatnya menganga tak percaya…

-Flashback end-

Sejak saat itu, aku bertekad harus menemukannya dan meminta pertanggung jawabannya karena ia membuatku mengubah rencanaku bersekolah di private boys school, juga mengubah orientasi seksualku karena membuatku menyukainya.

Kyuhyun POV end.

***

Sungmin POV

Jam istirahat makan siang. Seperti biasa Wookie datang ke kelasku sambil membawa bekal buatannya yang terkenal enak dan sangat kusuka.

“Hyung!”, katanya ceria sambil memasuki kelasku. Aku melambai ke arahnya dan dengan segera dia sudah ada di hadapanku dan meletakkan bekalnya di mejaku.

“Aku jadi tidak enak kalau setiap hari kau membawakan bekal untukku, Wookie”, kataku sambil menerima sumpit yang diberikan oleh Wookie kepadaku.

“Tak apa hyung. Hyung kan tahu kalau aku tidak suka makan sendirian di kelas. Lagipula lebih enak makan beramai-ramai seperti ini kan?”, katanya lagi sambil tersenyum dan membuka kotak bekalnya.

“Hmm.. iya sih. Tapi kau pasti akan lebih senang kalau bukan hanya aku yang menemanimu makan bekalmu ini kan?”, kataku jahil.

Seperti dugaanku, wajah Wookie langsung memerah. Ha! Aku tahu alasan Wookie masuk ke sekolah ini. Walaupun ia tahu betapa sulitnya tes masuk ke sekolah ini, ia tetap berjuang dengan segenap kekuatannya agar bisa masuk ke sekolah elit ini. Aku tertawa melihat wajahnya yang memerah padam seperti itu. Lalu tanganku terulur untuk mengacak rambutnya.

“Wah, Sungmin. Enak sekali kau setiap hari ada yang membawakanmu bekal seperti ini”, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang menurutku sangat indah. Aku tersenyum dan melambai ke arahnya, sementara sempat kulihat Wookie membeku di tempatnya. Wajahnya tak bisa lebih merah lagi dari ini.

“Kalau kau mau kau bisa bergabung dengan kami kok, Yesungie. Lagipula Wookie membuat bekalnya cukup banyak, jadi kukira akan cukup jika kita makan bertiga. Iya kan, Wookie?”, kataku lagi-lagi menggodanya. Ya, pemuda tampan bermata sipit inilah alasan Wookie mati-matian berjuang keras melalui tes masuk sekolah ini.

“N- Ne, hyung”, kata Wookie sedikit tergagap. Sementara Yesung segera menarik kursi di samping tempat dudukku dan duduk di samping kiriku, di antara aku dan Wookie.

“Benarkah Wookie? Aku boleh ikut makan bersama kalian? Waah~ terima kasih. Kau baik sekali”, kata Yesung sambil mengacak rambut Wookie.

Wookie mengangguk pelan. Wajahnya sudah merah padam bak kepiting rebus dimasak dengan saus tomat. “Ne, hyung. Boleh kok. Aku juga sudah menyiapkan sumpitnya”, kata Wookie lagi sambil menyerahkan sumpit pada Yesung.

Yesung tampak sedikit terkejut, tak menyangka Wookie benar-benar menyiapkan segala sesuatunya. Ia kemudian tersenyum dan menerima sumpit dari tangan Wookie. Kami pun mulai makan bersama.

“Hmm… enak sekali. Siapa yang masak?”, kata Yesung setelah suapan pertama. Wookie tertunduk malu, sementara aku tersenyum.

“Aku belum cerita ya, kalau Wookie-ah ini pandai memasak. Semua ini dia yang memasak lho, Yesung”, kataku, mirip orang yang sedang mempromosikan dagangannya.

Yesung menaikkan alisnya. “Benarkah? Wah.. kau ini selain manis juga pintar memasak, ya. Benar-benar calon istri yang ideal”, kata Yesung dengan polosnya. Aku yakin Yesung mengatakan ini secara spontan dan tanpa berpikir panjang, karena yah, memang begitulah ia.

Wookie langsung tersedak dan terbatuk-batuk dengan keras. Wajahnya sudah tak karuan lagi merahnya. Sementara aku tertawa sambil berusaha membantunya menenangkan diri dan mengulurkan botol air minum ke arahnya.

“Yesung pabboya!”, seruku. “Wookie ini namja, bodoh! Mana mungkin dia jadi istri! Pabbo!”, kataku masih sambil mengusap-usap punggung Wookie, tapi juga tak berhenti tertawa.

Sepertinya Yesung baru menyadari kebodohannya, menatap ke arah Wookie dengan penuh penyesalan. “Mian.. Mianhe Wookie, aku tak sengaja. Aku hanya mengatakan apa yang ada di pikiranku, Mian..”.

“Sudahlah.. uhuk.. hyung.. uhuk-uhuk.. tak apa.. aku mengerti”, kata Wookie di antara batuk-batuknya yang sudah agak mereda. Ya, dua tahun mengenal Yesung –yang sudah sejak jadi sahabatku sejak kelas 1 dan sering main ke rumahku– membuat Wookie paham sifat namja unik yang satu ini.

“Wah-wah.. ada apa ini? Sepertinya ramai sekali”, tiba-tiba terdengar suara bariton yang mendekat ke arah kami. Aku menoleh ke arah namja yang baru saja datang. Ternyata Choi Siwon, ketua OSIS merangkap kapten tim basket, namja yang terkenal dan sangat digilai oleh para yeoja di sekolah kami. Termasuk TOP 10 The Most Wanted Boy di sekolah ini.

“Ah, Siwon-sshi. Kami hanya sedang makan siang bersama-sama. Mau bergabung?”, tawarku basa-basi. Tak disangka ia menarik sebuah kursi dan duduk di samping kananku, di hadapan Yesung.

“Boleh?”, tanyanya sambil menatap err.. dalam(?) ke arahku. Aku tak begitu paham arti tatapannya, jadi aku cuek saja dan mengangguk padanya.

“Ne. Tapi Wookie tak membawa sumpit lagi..”, kataku ragu.

Siwon mengangkat alisnya. “Wookie?”, tanyanya. Lalu mengikuti arah pandanganku. “Oh, jadi namja manis ini namanya Wookie?”, katanya sambil memamerkan senyuman 1000 watt-nya, lengkap dengan lesung pipit di kedua pipinya yang langsung membuat beberapa yeoja yang kebetulan ada di kelas memekik histeris. Aish…

“Hmm.. aku bisa memakai sumpitmu, kalau kau tak keberatan Sungmin”, katanya sambil menatap ke arahku. Aku shock mendengar perkataannya. Pakai sumpitku? Yang benar saja… Itu kan… Itu kan artinya…

Belum sempat aku menyelesaikan pikiranku, tiba-tiba Siwon tertawa kecil dan mengusap sudut bibirku dengan ibu jarinya. “Haha.. kau ini sudah umur berapa, Minnie.. makannya kok masih belepotan gitu sih?”

HWAAADDDD???!!!! MINNIE????!!!

Aku double shock, baik dengan perlakuannya menyingkirkan bulir nasi di sudut bibirku, juga nama panggilannya padaku. APA MAKSUDNYA DIA MEMANGGILKU MINNIE?? DAN SEJAK KAPAN DIA SOK AKRAB BEGINI DENGAN MEMANGGILKU DENGAN NAMA KECILKU????

Aku terlalu shock, hingga tak menyadari tatapan cengo Yesung dan Wookie pada adegan live super gaje di hadapan mereka.

“Minnie? Min..??”, Siwon mengguncang bahuku pelan. Aku tergagap sadar dari keterkejutanku. Dan menatap horror ke arahnya.  “Gwenchana?”, tanyanya khawatir.

“A- Ah.. Ne.. Gwe-“

“Siwon-hyung!!”

.

.

.

TBC